Geliat HYROX di Indonesia, Ketika Olahraga Bertemu Realitas Bisnis

Febrian adalah seorang travel vlogger dengan akun medsos @_febrian. Saat rehat mengeksplor keindahan wisata, dia berlari kencang layaknya atlet profesional. Febrian tengah menjalani sesi fisioterapi di klinik olahraga sekaligus latihan untuk memperbaiki form saat berlatih. Semua dilakukan untuk satu keyakinan yakni form yang baik akan membuatnya terhindar dari cedera saat berolahraga.

Dia menyebutkan bahwa sedang mempersiapkan diri untuk menghadapi sejumlah event olahraga seperti half marathon, termasuk yang disebut adalah HYROX Indonesia yang akan digelar bulan Juni mendatang.

“Seperti mobil, mesinnya harus selalu dirawat agar bisa melaju kencang di jalanan,” ujar Febrian singkat.

HYROX merupakan kompetisi kebugaran yang mengawinkan lari dengan latihan fisik yang mempertahankan daya tahan, kekuatan, dan ketahanan mental. Kompetisi hybrid ini meliputi lari 1 kilometer ditambah 1 stasiun latihan fungsional yang diulang sebanyak 8 kali. Secara keseluruhan, peserta akan berlari 8 kilometer dan mengikuti 8 latihan berbeda, meliputi SkiErg, Sled Push, Sled Pull, Burpee Broad Jumps, Rowing, Farmers Carry, Sandbag Lunges, dan Wall Balls.

Berasal dari Jerman pada tahun 2017 oleh Christian Toetzke dan Moritz Fürste, HYROX memiliki format unik untuk bisa diakses oleh penggemar olahraga dari berbagai latar belakang cabang dengan hasil yang bisa dikompetisikan.

Format olahraga tersebut meliputi standarisasi dari jenis latihan, termasuk bobot yang dipergunakan, dan dijadikan konsensus di mana saja, mulai dari Frankfurt, Dubai, Singapura, Jakarta, maupun tempat lainnya. Dengan demikian, seorang karyawan yang tinggal di Jakarta Selatan bisa membandingkan capaian waktunya di papan kompetisi yang sama dengan atlet dari belahan dunia yang lain. Inilah kompetisi yang menjadi daya tarik bagi semuanya.

Standarisasi yang sama membuat HYROX bisa diterima di lebih dari 60 kota di dunia, dirayakan oleh ratusan ribu orang setiap tahunnya dengan perlombaan yang dilakukan di dalam ruangan ditemani pencahayaan dan musik serta ditonton oleh sesama peserta. Bagi generasi yang tumbuh bersama media sosial, pengalaman ini menjadi berharga untuk dibagikan maupun dibanggakan.

Hadirnya HYROX di Indonesia tidak lepas dari meledaknya fenomena lonjakan partisipasi olahraga oleh masyarakat pascapandemi, jalannya terpatri sejak atlet yang bertanding di Singapura tidak sekadar membawa pulang medali, tetapi kisah yang lantas menyebar cepat di komunitasnya masing-masing. Dari sana, tumbuh gerakan untuk berlatih HYROX yang bertunas karena kepercayaan sesama atlet, bukan kampanye pemasaran resmi.

Dari sana, ekosistem terus bertumbuh dengan pelatihan yang terstruktur. Pusat-pusat kebugaran mulai menyediakan peralatan yang relevan untuk berlatih. Pelatih menyusun program khusus bagi anggota. Dan kehadiran media sosial bermanfaat tidak hanya sekadar berbagi jadwal latihan, tetapi juga menghitung mundur menyambut hari perlombaan.

Format indoor juga menjadi daya tarik di Indonesia dengan iklim tropis sehingga mereka bisa berlatih dengan terlindung dari panas maupun hujan. Dengan sesi olahraga yang berkisar 60-90 menit, para peserta dari rentang usia 28-45 tahun datang mencari sensasi berolahraga individual yang terukur dan memiliki prestise internasional.

Fernando Surya, 20Fit Gym Head Coach, menjelaskan  bahwa daya tarik HYROX terletak pada perlombaan yang menggabungkan lari dan functional training dan terjangkau bahkan oleh pemula dalam olahraga. “Gerakannya sederhana dan memiliki pakem yang sama sehingga peserta bisa berlatih dan mengurangi risiko cedera,” jelasnya.

Mereka yang ingin terjun ke HYROX, lanjut Fernando, sebaiknya memiliki dasar dalam berlari sekaligus angkat berat. Mengikuti kelas HYROX bisa dipertimbangkan untuk mempelajari teknik yang tepat serta gerakan penunjang untuk melatih otot yang akan berperan dominan selama perlombaan.

Disinggung terkait potensi olahraga ini di masa mendatang, Fernando yang juga pelatih berlisensi HYROX Performance Coach Affiliate menambahkan, bahwa setidaknya dalam dua tahun ke depan masih akan booming. Estimasi ini juga seiring rencana untuk mengajukan HYROX sebagai cabang olahraga yang dipertandingkan dalam olimpiade pada tahun 2032 mendatang di Australia.

Antusiasme yang terbangun itu juga memunculkan pertanyaan yang menggelitik: siapa yang sebetulnya bisa menggunakan nama olahraga ini?

Nama menjadi aset

Di belakang maraknya minat akan HYROX ini, ada roda ekonomi yang berputar dengan bisnis turunannya. Satu kali kelas HYROX di 20Fit Arena Menteng Prada pada bulan Maret bisa seharga Rp300.000. Hal itu belum termasuk perlengkapan khusus seperti sepatu dengan sol yang mendukung transisi dari lari ke menarik sled, pakaian kompresi, nutrisi dan suplemen, dan layanan fisioterapi serta pemulihan untuk para atlet HYROX seperti dilakukan oleh Febrian.

Pada saat yang sama, perlu disadari bersama bahwa nama HYROX adalah bagian dari kekayaan intelektual yang dilindungi berikut logo, desain, format perlombaan dan terminologi yang muncul di sekitarnya. Hal ini memang sudah menjadi kelaziman dalam event olahraga komersial seperti CrossFit Games, Boston Marathon, Ironman, dan banyak lagi. Inilah yang belum banyak disadari: nama HYROX bukan sekadar kata, melainkan sebuah merek dagang yang dilindungi secara hukum. 

Dalam situs resminya, memang dijelaskan mengenai koridor soal penggunaan nama HYROX untuk tujuan komersial, hal ini perlu diperhatikan oleh mereka yang ingin membangun bisnis dari geliat HYROX yang sedang naik daun. 

Beberapa hal yang perlu dihindari bila belum memiliki afiliasi resmi. Misalnya, pusat kebugaran yang memasang spanduk layanan latihan HYROX, pelatih yang menawarkan jasanya dengan menyertakan nama HYROX, maupun penyelenggara event lokal. Berbagi pengalaman berlomba HYROX di media sosial tentu masih diperbolehkan, meski batas antara berbagi secara personal dan tujuan komersial tidak selalu mudah didefinisikan.

Fernando yang juga pelatih berlisensi HYROX Performance Coach Affiliate menambahkan, bahwa HYROX berhasil dalam memonetisasi segala hal yang terkait dengan olahraga itu. Langkah tersebut sekaligus menjadi perlindungan karena tidak semua orang bisa sembarangan mengklaim sebagai ekosistem resmi dari HYROX tanpa ada afiliasi.

“Dari sisi bisnis, langkah ini bermanfaat untuk menjaga standarisasi dari format pertandingan dan memberi legitimasi bagi siapa pun yang terlibat,” katanya.

Di tengah kesenjangan minat berolahraga dan batasan merek dagang, HYROX terus bertumbuh. Apakah nanti dirawat dengan hati-hati atau malah menjadi friksi, biarlah hal itu bukan menjadi penghalang bagi atlet misalnya Jemima Djatmiko, Asia Pacific Top HYROX Pro Athlete, atau Irfan Bachdim, mantan pemain timnas yang finis di posisi ke-27 dari 1.012 peserta dengan catatan waktu 1:05:23 pada ajang HYROX Hong Kong 2024.

Dan ini berlaku juga bagi semua yang merayakan olahraga ini, dengan nama apa pun yang tertulis di spanduk acara.